Tiba-tiba Masuk Desil 9-10 Padahal Ekonomi Pas-pasan? Ini Penjelasan BPS

Tiba-tiba Masuk Desil 9-10 Padahal Ekonomi Pas-pasan? Ini Penjelasan BPS
Masuk Desil Desil 9-10 padahal Ekonomi Pas-pasan?

Keluhan soal status kesejahteraan muncul setelah sejumlah warga mendapati namanya berada di kelompok desil 9 atau 10. Sebagian merasa hasil itu tak sejalan dengan kondisi rumah tangga.

Perdebatan tersebut penting dilihat dari cara kerja DTSEN. Peringkat desil bukan label kaya atau miskin, melainkan posisi relatif rumah tangga dalam susunan kesejahteraan penduduk.

BPS menjelaskan desil disusun dengan membagi penduduk menjadi sepuluh kelompok berdasarkan urutan tingkat kesejahteraan. Karena itu, posisi seseorang dapat berubah saat data diperbarui.

Pemutakhiran DTSEN juga terus dilakukan. BPS menyebut versi kedua tahun 2026 mencakup sekitar 95,3 juta keluarga atau 289,3 juta individu, termasuk hasil verifikasi lapangan terbaru.

Artinya, kondisi yang dirasakan warga sehari hari tetap penting untuk diperiksa ketika hasil pemeringkatan dianggap tidak sesuai. Data sosial ekonomi memang dapat berubah mengikuti keadaan keluarga.

Warga Merasa Kondisinya Tak Mencerminkan Kelompok Atas

Seorang warga Sragen, Ipeh, misalnya, mengaku kaget ketika mengetahui dirinya berada di desil 9. Ia merasa kondisi pendapatannya belum menunjukkan kehidupan yang serba berkecukupan.

“Kaget banget tiba-tiba saya masuk desil 9, padahal gaji masih UMR dan rumah saya bahkan hanya memiliki daya listrik 900 VA,” ujarnya dilansir dari Kompas.com, Minggu (16/8/2026).

Ipeh juga tinggal bersama ayah, ibu, kakak, dan adiknya. Rumah yang ditempati keluarganya baru dibangun sekitar dua tahun lalu setelah sebelumnya mereka menetap di rumah kontrakan.

Kasus seperti itu membuat pemahaman tentang desil menjadi penting. Angka tersebut tidak berdiri sendiri dan tidak dapat langsung diterjemahkan sebagai ukuran kekayaan seseorang secara mutlak.

Apa Sebenarnya Arti Desil 9 dan 10?

Menurut BPS, pengelompokan kesejahteraan memakai beragam informasi sosial dan ekonomi. Variabelnya antara lain pendidikan, pekerjaan, kondisi hunian, aset, serta karakteristik rumah tangga.

Karena penilaiannya bersifat relatif, seseorang bisa merasa pengeluarannya terbatas tetapi tetap masuk kelompok atas jika dibandingkan dengan distribusi penduduk yang menjadi dasar pemeringkatan.

BPS juga menegaskan bahwa pengeluaran per kapita tidak sama dengan desil. Pengeluaran menggambarkan belanja rata rata per orang, sedangkan desil menunjukkan posisi relatif dalam distribusi.

Penjelasan itu membantu menjawab anggapan bahwa masuk kelompok 9 atau 10 otomatis berarti seseorang tergolong orang kaya. Pemaknaan tersebut terlalu sederhana untuk menggambarkan kondisi nyata.

Mengapa Desil 10 Tidak Selalu Berarti Orang Kaya?

Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, juga menyoroti rentang ekonomi yang lebar di dalam desil 10. Menurutnya, kelompok tersebut memiliki karakter yang sangat beragam.

“Desil 10 memang sangat heterogen karena batas bawahnya jelas, tetapi tidak punya batas atas,” jelas Yusuf dikutip dari Kontan. Pernyataan itu menggambarkan lebar rentang kelompok tersebut.

Berdasarkan data 2024 yang dikutip Kontan, pengeluaran per kapita kelompok desil 10 disebut berada mulai sekitar Rp3,03 juta per bulan dan dapat mencapai sekitar Rp133 juta.

Rentang tersebut menunjukkan mengapa istilah desil tidak tepat disamakan dengan kelas sosial tertentu. Orang yang berada pada kelompok sama dapat memiliki kemampuan ekonomi yang sangat berbeda.

Data yang dikutip Kontan juga menyebut hanya sekitar 1,19 juta dari 22,06 juta orang pada desil 10 yang masuk kategori kelas atas. Mayoritas lainnya masih berada di kelas menengah.

Mengapa Posisi Desil Bisa Berubah?

Persoalan kemudian muncul ketika kelompok 9 dan 10 dipakai untuk kebijakan yang berdampak langsung kepada masyarakat. Penggunaan peringkat perlu memperhatikan tujuan dan kriteria program.

BPS menyatakan DTSEN menjadi basis untuk membantu pemerintah menetapkan sasaran intervensi secara lebih tepat. Data tersebut terus diperbaiki agar keputusan memakai informasi terkini.

Perubahan kondisi rumah tangga dapat memengaruhi data yang digunakan dalam pemeringkatan. Karena itu, posisi seseorang tidak harus selalu berada pada kelompok yang sama sepanjang waktu.

BPS juga melakukan verifikasi lapangan dan integrasi berbagai sumber data untuk meningkatkan ketepatan klasifikasi. Proses tersebut diperlukan karena kondisi sosial ekonomi masyarakat dapat berubah cukup cepat.

Warga Bisa Mengajukan Pembaruan Jika Data Tidak Sesuai

Jika warga merasa statusnya tidak menggambarkan keadaan sebenarnya, pembaruan data dapat diajukan melalui jalur yang tersedia. Proses tersebut bukan berarti hasil akhirnya pasti turun.

Usulan perubahan perlu melewati verifikasi dan pemutakhiran sebelum diproses kembali. BPS kemudian melakukan pemeringkatan berdasarkan data yang telah tersedia dan hasil pembaruan yang dinilai sah.

Menurut informasi yang dilansir Kompas.com, masyarakat dapat mengajukan pembaruan melalui aplikasi Cek Bansos. Pengusulan selanjutnya diperiksa secara bertahap sebelum masuk proses pemeringkatan.

Cara mengajukan pembaruan data melalui jalur yang tersedia dapat dilakukan dengan tahapan berikut:

  1. Melalui aplikasi Cek Bansos, warga dapat membuat akun dan mengirim usulan pembaruan data sesuai kondisi rumah tangga yang sebenarnya.
  2. Usulan yang masuk akan melalui proses verifikasi lapangan oleh pendamping sosial sebelum data diteruskan untuk tahapan pemeriksaan berikutnya.
  3. Setelah proses verifikasi selesai, data menjalani validasi secara bertahap oleh Kementerian Sosial sebelum diteruskan ke tahap pemeringkatan.
  4. Melalui desa atau kelurahan, warga dapat menyampaikan perubahan kondisi dengan membawa dokumen kependudukan seperti KTP dan KK kepada petugas.
  5. Petugas desa atau kelurahan dapat membantu mengusulkan pembaruan melalui sistem SIKS NG Kemensos, kemudian data diproses oleh instansi terkait.

Pembaruan Data Tidak Menjamin Desil Langsung Turun

Petugas desa atau kelurahan dapat membantu mengusulkan perubahan data berdasarkan kondisi nyata warga. Data tersebut tetap harus melewati tahapan pemeriksaan sebelum hasil pemeringkatan ditetapkan.

Perubahan data juga tidak otomatis membuat posisi kesejahteraan menjadi lebih rendah. Setelah diverifikasi, hasil pemeringkatan dapat tetap, turun, atau berubah ke kelompok lebih tinggi.

Karena itu, warga sebaiknya menyampaikan kondisi rumah tangga secara jujur dan lengkap. Informasi yang tidak sesuai justru dapat memengaruhi akurasi pemeringkatan pada tahap berikutnya.

Desil Bukan Label Kekayaan

Pada akhirnya, berada di kelompok 9 atau 10 tidak cukup untuk menyimpulkan seseorang hidup mewah. Desil adalah alat statistik untuk membaca posisi relatif kesejahteraan, bukan cap kekayaan.

Pemahaman tersebut penting agar masyarakat tidak terburu buru menilai hasil DTSEN. Jika ada ketidaksesuaian, jalur pembaruan data lebih tepat ditempuh daripada sekadar menyimpulkan hasilnya keliru.

BPS sendiri menempatkan DTSEN sebagai basis data yang terus diperbarui untuk mendukung kebijakan pemerintah. Proses tersebut mencakup pemutakhiran dan verifikasi agar sasaran program semakin tepat.

Dengan demikian, warga yang mendapati statusnya berada pada desil 9 atau 10 tidak perlu langsung menganggap dirinya dikategorikan sebagai orang kaya. Posisi tersebut harus dibaca secara relatif.

Hal terpenting adalah memastikan data yang digunakan benar benar menggambarkan kondisi rumah tangga. Jika terdapat perubahan atau ketidaksesuaian, masyarakat memiliki jalur untuk mengajukan pembaruan data.