BMKG Ungkap Prediksi Puncak Musim Kemarau 2026, Sampai Kapan Berlangsung?

BMKG Ungkap Prediksi Puncak Musim Kemarau 2026, Sampai Kapan Berlangsung?
Ilustrasi Kemarau Panjang.

Musim kemarau 2026 masih menjadi perhatian karena kondisi kering meluas di banyak wilayah Indonesia. BMKG menyebut sebagian besar wilayah telah masuk fase kemarau, sementara hujan tetap dapat muncul secara lokal.

Data BMKG menunjukkan 535 Zona Musim atau 76,5 persen wilayah sudah mengalami kemarau pada dasarian pertama Agustus. Kondisi ini membuat ketersediaan air perlu diperhatikan di banyak daerah.

Pertanyaan tentang kapan kemarau berakhir juga mulai muncul karena cuaca kering telah berlangsung cukup lama. BMKG memperkirakan perubahan menuju musim hujan terjadi bertahap mulai sekitar Oktober.

Kapan Kemarau 2026 Diperkirakan Berakhir?

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menyampaikan bahwa periode kemarau secara umum diperkirakan berakhir sekitar pertengahan Oktober 2026.

“Pada umumnya musim kemarau tahun 2026 di Indonesia akan berakhir di sekitar pertengahan bulan Oktober,” Imbuhnya dalam konferensi pers yang dikutip dari cnnindonesia.com pada 30 Juli 2026.

Setelah periode tersebut, wilayah Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim hujan secara bertahap. Kawasan bagian barat diproyeksikan mengalami perubahan lebih dahulu, sebelum hujan meluas ke daerah lainnya.

Puncak Kemarau Terjadi pada Bulan Apa?

BMKG sebelumnya memprakirakan puncak kemarau 2026 berlangsung antara Juli hingga September. Agustus menjadi bulan dengan cakupan wilayah puncak kemarau paling luas dibandingkan dua bulan lainnya.

Sebanyak 369 Zona Musim atau sekitar 48,84 persen wilayah daratan diprakirakan mengalami puncak kemarau pada Agustus. Kondisi tersebut menjelaskan mengapa cuaca kering terasa kuat pada periode ini.

Sementara itu, 169 Zona Musim atau 25,41 persen wilayah daratan diperkirakan mencapai puncak kemarau pada September. Artinya, sebagian daerah masih dapat mengalami kondisi kering setelah Agustus.

Agustus Menjadi Periode Kering

Kondisi atmosfer pada Agustus turut memperkuat pola cuaca kering di berbagai wilayah. BMKG mencatat curah hujan kategori rendah masih mendominasi sebagian besar Indonesia pada awal bulan tersebut.

Pada dasarian pertama Agustus, sekitar 90,79 persen wilayah Indonesia tercatat menerima curah hujan kategori rendah. Sebanyak 87,28 persen wilayah juga berada pada kondisi hujan di bawah normal.

Fenomena El Niño turut menjadi faktor yang perlu diperhatikan karena dapat memperkuat kondisi atmosfer kering. Namun, pengaruhnya tidak otomatis sama pada setiap wilayah Indonesia.

Ardhasena menjelaskan bahwa dampak El Niño sangat bergantung pada kondisi suhu laut di sekitar Indonesia. Karena itu, setiap kejadian El Niño dapat memberikan pengaruh yang berbeda terhadap pola cuaca.

Hujan Masih Bisa Turun Saat Kemarau

Dominasi cuaca kering tidak berarti seluruh Indonesia akan bebas hujan. BMKG masih menemukan peluang hujan dengan intensitas beragam akibat pengaruh dinamika atmosfer regional dan faktor lokal.

Pada pertengahan Agustus, hujan sedang hingga lebat masih berpotensi terjadi di sejumlah daerah. Kondisi tersebut dapat muncul ketika aktivitas gelombang atmosfer mendukung pembentukan awan konvektif.

Artinya, masyarakat tetap perlu memperhatikan prakiraan cuaca harian meskipun wilayahnya sedang berada dalam periode kemarau. Hujan lokal dapat muncul secara tiba tiba dan disertai angin kencang.

Wilayah yang Perlu Mewaspadai Cuaca

Untuk periode 18 sampai 20 Agustus 2026, BMKG memprakirakan sejumlah wilayah berpotensi mengalami peningkatan hujan sedang. Daerah tersebut antara lain Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Jambi dan Lampung.

Potensi hujan juga terdapat di Jawa Barat, Kalimantan Utara, Maluku, Papua Tengah dan Papua Pegunungan. Papua Pegunungan masuk kategori siaga untuk potensi hujan lebat hingga sangat lebat.

Pada 21 sampai 24 Agustus, peluang peningkatan hujan sedang masih terdapat di beberapa wilayah. Aceh, Sumatra Barat, Kalimantan Tengah, Papua Pegunungan dan Papua termasuk daerah yang perlu mencermati perkembangan cuaca.

BMKG juga mencatat potensi angin kencang di sejumlah wilayah pada periode tersebut. Kondisi ini menunjukkan bahwa musim kemarau tidak menghilangkan risiko cuaca ekstrem yang bersifat lokal.

Dampak yang Perlu Diantisipasi

Cuaca kering yang berlangsung panjang dapat meningkatkan tekanan terhadap ketersediaan air, terutama pada daerah yang memiliki hari tanpa hujan cukup lama. Kondisi lahan juga menjadi lebih mudah mengering.

Risiko kebakaran hutan dan lahan perlu mendapat perhatian karena vegetasi yang kering lebih mudah terbakar. Masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran sampah atau membuka lahan menggunakan api.

Kondisi panas dan kering juga membuat masyarakat perlu menjaga asupan cairan, khususnya ketika beraktivitas di luar ruangan pada siang hari. Perlindungan dari paparan sinar matahari juga perlu diperhatikan.

Peralihan Menuju Musim Hujan

Perubahan dari kemarau menuju musim hujan tidak terjadi serentak di seluruh Indonesia. Sejumlah wilayah bagian barat diperkirakan lebih dahulu mengalami peningkatan hujan sebelum kondisi tersebut meluas.

Memasuki November, BMKG memperkirakan hujan mulai lebih merata di sejumlah wilayah, termasuk sebagian besar Jawa. Namun, intensitas hujan pada awal peralihan tetap dapat berbeda antarwilayah.

Karena itu, pertengahan Oktober dapat menjadi gambaran umum berakhirnya kemarau secara nasional, bukan penanda bahwa seluruh daerah langsung memasuki musim hujan pada tanggal yang sama.